
Mood : fellin’ romance...XD
Music : Hoshi no Suna – Gackt –
Aku tidak pernah bermaksud untuk jatuh cinta, apalagi jatuh cinta padamu. Tapi kaulah yang membuatku untuk jatuh cinta. Jatuh cinta pada dirimu...karena kau amat sangat baik... Apa kau sadar akan semua itu?
Tidak hanya karena kau amat sangat baik, tetapi juga sangat gentle, sangat peduli, dan sangat manis. *houh..really Gacchan?* Itu semua terlalu sempurna... Aku benar-benar takjub, dan tentu saja aku sangat bersyukur, karena tidak ada satupun orang yang berusaha untuk mencari keuntungan darimu. Atau sejauh yg kupikirkan... jika ada seseorang yang berusaha untuk menyakitimu, aku akan membunuhnya.
Kau selalu manis dan digemari, seperti seekor anak anjing kecil. Dan kau memiliki kecantikan... Kau juga tampak lugu, tapi disitulah letak perbedaannya. Kau memiliki sisi gelap dalam dirimu yang sangat bertentangan dengan image-mu. Bukan gelap dalam arti jelek, tetapi... ah, sangat sulit kujelaskan dengan kata-kata. Aku tidak terlalu cakap dalam menjelaskan sesuatu *(-_-)” just like me Gacchan...*, juga dalam musikku tentu saja. Dan aku juga memiliki perasaan yang orang lain tidak tahu dan perkirakan... Tidak juga kau, tapi satu hal lagi... Kau sama sekali tidak mengenalku lebih jauh, bukankah begitu?
Tapi sederhana saja apa yang bisa kujelaskan dengan kata-kataku saat ini, bahwa yang sesungguhnya kuinginkan adalah kehadiranmu, kepribadianmu, dan dirimu. Yah... yang selama hidupku selalu kucari.
Dan ketika aku menemukanmu, pasangan jiwaku, aku tidak bisa memilikimu. Kau sudah ada yang memiliki. Dan inti dari masalahnya, bahwa kau adalah seorang laki-laki, meskipun kau tidak menikah, kau adalah seorang laki-laki. Dan kau tidak akan bisa dan tidak akan pernah untuk mencintaiku, dapatkah kau melakukannya?
~~~~~~
Bukanlah diriku yang selalu menyukaimu untuk merasakan putus asa. Aku selalu berharap bahwa kau adalah seorang wanita. Itu semua karena aku mengharapkan adanya kesempatan. Jika kau adalah seorang wanita, meskipun kau sudah menikah, pasti ada kesempatan, keberuntungan bagiku untuk bisa mengambil dirimu dari pasanganmu. Hah...kenyataannya, bahwa tidak ada kesempatan bagiku untuk bisa melakukan hal itu, tak peduli seberat apapun aku mencoba. Tidak bisakah aku mendapat kesempatan? Walau hanya sekali?
Hfuu... Aku sudah tahu jawabannya, meskipun aku tidak suka. Aku tidak suka selamanya berada dalam posisi yang sulit. Sejujurnya, aku tidak dapat menerima semua ini. Kenyataan ini. Aku sangat menginginkan dirimu, dan aku sangat tidak bisa mengingkarinya. Dan maafkan keterusteranganku ini, setiap waktu aku melihatmu, aku ingin menghampiri dirimu, membuatmu terjatuh ke lantai, dan menikmati kecantikan dirimu. *('_')? Nani o Gacchan? Wakanai yo?!*
Hahaha...Tapi kau tidak perlu takut. Aku membatasi diriku untuk tidak melakukan hal itu. Tidak akan pernah terhadap dirimu. Aku terlalu mencintaimu untuk melakukan hal itu. Karena kau akan membenciku. Aku akan menghancurkan apa yang sudah kita lakukan bersama. Persahabatan... yah persahabatan kita...
Apakah aku terlalu egois menginginkan hal lebih daripada ini? Menginginkan dirimu lebih? Meskipun aku sudah memilikinya walaupun hanya sedikit?... Hufh... Aku seharusnya bersyukur atas apa yang sudah aku miliki. Tapi aku tidak dapat menerima ini. Karena... ini saja tidak cukup!
Dan apakah aku yang tidak sadar ataukah aku yang berpikiran buruk, bahwa sesungguhnya aku sangat membenci istrimu, dengan seluruh tubuhku ini?... Maksudku, ini bukan sepenuhnya salah istrimu, sehingga ini terjadi. Meskipun kau tidak jatuh cinta padanya, meskipun kau tidak menikah dengannya, kau tetap tidak akan bisa dan tidak akan pernah menjadi milikku. Akhirnya... Apakah ini menjadi hal yang menyedihkan dan menjijikan untuk jatuh cinta padamu?
Seberapa benci kau padaku jika kau mengetahui perasaanku, hanya kau yang tahu... Kenapa aku harus jatuh cinta padamu dari sekian banyak orang? Kenapa? Dan kenapa aku hanya tidak dapat memilikimu? Hanya sekali ini saja? Arg... Aku tahu ini tidak akan mungkin... satupun tidak akan menjadi kenyataan.
Dan sekarang kau menatapku, mencoba untuk menarik perhatianku dari hal-hal yang sedang kupikirkan. Dan aku berharap kau tidak melihat air mataku. Ahh...Silly Haido, perhatianku selalu tertuju padamu. Selalu. Meskipun kau jauh atau dekat. Dan seberat apapun aku berusaha untuk melepaskan diriku dari pikiranku, fantasiku... tapi tetap semua tidak mau hilang... Aku betul-betul minta maaf Haido... Untuk semua yang kupikirkan...
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Chapter 2 – Hyde POV –
Kenapa kau tidak melihatku? Meskipun kau ada bersamaku, kau seperti tidak bersamaku. Kau betul-betul membuat jarak denganku. Kenapa? Kau tidak seperti ini dengan yang lainnya ( Percaya padaku... Aku selalu memperhatikanmu dari sudut mataku. Dan kau tidak tahu itu...). Apa yang telah kulakuan sehingga kau seperti ini? Ini menyakitkan, ketika kau tidak peduli padaku seperti ini... Apa kau tahu itu?
Ken selalu mengangguku tentang girlish emotions-ku. Kupikir... itu ada sedikit benarnya. Aku menerima itu. Aku sedikit over-emotional. Okay.... okay, aku memang over-emotional. Apalagi mengenai dirimu. Yeah... kau tidak mengetahuinya, bahwa aku memiliki perasaan terhadapmu. Ini salah. Aku tahu ini. Itulah kenapa aku tidak berani untuk mengatakan yang sejujurnya padamu. Aku ingin mengatakannya padamu walaupun tidak begitu berharap banyak... karena kau akan membenciku nanti... akankah kau?
~~~~~~
Suatu hari, kutemukan diriku yang tidak memikirkan tentang apapun juga, kecuali tentang dirimu and definitely not my “loving” wife. Dan seberat apapun aku berusaha, aku tidak dapat tidak memikirkanmu. Kau terus menghantui pikiranku, dan aku tidak tahan lagi....
Aku ingin menangis sekarang. Aku hanya tahu itu sekarang. Kenapa aku menjadi orang yang cengeng? Kenapa aku harus menjadi... diriku yang seperti ini?
Aku menggigit bibir bawahku dengan gugup. Merasa gugup dengan apa yang sudah aku lakukan. Tapi aku butuh seseorang untuk menghibur dan menenangkanku ( Geez!! Bukan hanya overly-emotional, tapi aku seperti anak kecil juga! ). Dan kumohon padamu... jangan menghindar atau apapun... kumohon...
~~~~~~
Aku mendekat padamu dan meletakkan kepalaku di bahumu. Sebetulnya aku takut dengan reaksi negatif darimu. Aku merasakan bahwa kau terkejut ketika aku menempatkan kepalaku diantara bahu dan lehermu... dan aku berharap dalam hati bahwa kau tidak akan menghindar ataupun membenciku...
Tapi ketika aku berpikir bahwa kau akan menghindariku, aku merasakan tanganmu di punggungku, memeluk diriku untuk menenangkanku. Aku menarik napas sebentar sebelum mencari posisi yang enak dalam pelukanmu. Kau sangat gugup... tapi kau tidak menjauh dariku. Jadi... Apakah ini berarti bahwa kau sebenarnya peduli padaku? Meskipun hanya sedikit?
~~~~~~
Aku berusaha untuk berhenti menangis, dan kau tahu aku gagal. Aku tidak suka ini, tapi aku tidak bisa untuk berhenti menangis. Jadi... Sekarang air mataku terus mengalir dan aku berharap kau tidak mengetahuinya, meskipun kau akan mengetahuinya dan melihatnya
...dan... aku betul-betul minta maaf... untuk semuanya...
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Chapter 3 – Gackt POV –
Aku menempatkan kepalaku diatas kepalamu, bertanya dalam hati kenapa kau melakukan hal ini. Kau seperti dalam kesusahan, kebingungan... aku tidak suka itu. Dan aku merasakan cairan di kulitku yang diikuti dengan tubuhmu yang terisak-isak. Aku mengejapkan mata sebentar... dan berkonsentrasi.... Apa kau menangis, my beloved one? Kumohon jangan...apapun kesedihan yang sedang kaurasakan...
“Haido...” Aku berbisik padamu, mencoba untuk menenangkanmu. Meskipun akulah yang pertama kali menerima bahwa aku tidak ahli dalam menenangkan orang lain. Daripada dikatakan sebagai menenangkan seperti yang orang lain lakukan, ini sangatlah aneh karena kau terus-menerus menangis... Aku betul-betul sangat tidak menyukai ini semua...
“Haido... Haido... Ada apa?” Aku bertanya lagi padamu, merasa bingung atas semua ini. Apakah kau sudah mengetahui sesuatu...? Aku cepat-cepat menghapus pikiran itu. Ini bukanlah reaksimu, jika kau mengetahui bagaimana perasaanku padamu. Kau berbisik tentang sesuatu yang tidak dapat kumengerti dan kudengar.
Dengan hati-hati dan pelan-pelan aku menarikmu menjauh dariku, tapi kau tambah terisak menangis. Aku menarik napas, lalu mengangkat dagumu. Tapi kau langsung menghindar... Ada apa ini?
“Haido...lihat aku. Katakan padaku ada apa?” Aku bertanya lagi padamu, berharap kau untuk berhenti menangis dan menjadi dirimu yang bahagia...karena aku ingin melihat senyum manismu...
“Aku...Aku ti-tidak bisa...” Kau berbicara diantara isak tangismu, dan tetap menolak untuk melihatku.
Kumiringkan kepalaku untuk menatap wajahmu. Aku berusaha menghapus air mata di pipimu. “Tentu saja kau bisa.” Aku menjawabnya. Aku jadi ingin menangis melihat kau menangis. Aku betul-betul tidak suka melihatmu menangis seperti ini. Menyakitkan... “Kau dapat mengatakan apapun padaku.”
“Ti-tidak...ti-ti-tidak...aku, aku ti-tidak bisa...” Aku berusaha untuk tidak menghiraukan rasa sakit di hatiku mendengar kata-katamu ini. Aku hanya berusaha untuk mencari apa yang mengganggumu, tapi kau menolak untuk memberitahu. Apa kau tahu seberapa sakitnya itu...?
“...You can, you can tell me anything, alright? You should know that by now.” Aku membisikan kata-kata penghiburan yang bisa kukatakan saat itu, bersamaan ketika aku mengelus punggungmu, untuk menenangkanmu, hal yang terbaik yang bisa kulakukan saat ini.
“Aku... Aku...” Kau berusaha untuk berkata, dan aku berharap aku bisa melakukan sesuatu untukmu sebisaku, tapi hanya ini hal terbaik yang bisa kulakukan sekarang. “Aku... ingin... ingin me-mengatakannya padamu... Ta-tapi, aku...aku ti-tidak bisa...”
“Dan kenapa tidak bisa?” Aku balik bertanya.
“Ka-karena...kau akan membenciku. D-dan... menghindariku...”
“Aku tidak akan bisa membencimu, Haido“ Aku berbisik lagi padamu, mendekatkan dirimu padaku lagi dan mengelus punggungmu lagi dengan pelan-pelan. “Percaya padaku... Aku tidak akan pernah.”
“K-kau akan merasa ji-jijik.... dan ma-marah...”
“Tidak, aku tidak akan. Hanya... katakan padaku ada apa, okay? Aku janji tidak akan membencimu, atau marah padamu, ataupun jijik. Aku janji, okay?” Aku membisikkan ini padamu, dan memelukmu lagi. Aku tahu ini salah, tapi... ini jarak terdekat yang pernah aku dapatkan darimu, jadi...
“Janji...?” Suaramu terdengar pelan dan tenang...wajahmu terlihat so innocent... so much like a child...
“Aku janji, Haido. Aku...janji.”
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Chapter 4 –Hyde POV-
Aku menarik napas panjang, mencoba ubtuk menenagkan diriku dan meredakan isakku sedikit. Ini cukup memakan waktu dari yang kupikir, dan maafkan aku jika mengganggu waktumu atau apapun. Aku hanya merasa takut....
“Kupikir...kupikir...” Aku mulai kehilangan kata-kata dan takut setelah aku menjauh dari pelukanmu. Kepalaku menghadap ke bawah, menghindar untuk melihat ekspresi menjijikan, benci, dll yang akan muncul di wajahmu sebelum kau mendorongku menjauh darimu.
“Aku pikir bahwa...Aku...Aku...” Aku menutup mataku, mencoba untuk menenangkan diriku lagi, meskipun tahu ini tidak berhasil sama sekali. Kau hanya terus mengelus punggungku seperti yang sudah kau lakukan dari tadi. Ini membantu...walaupun hanya sedikit... jadi... Yeah... “I, I l-love y-you, Gacchan.” Akhirnya aku berhasil memaksa diriku untuk mengatakannya.... and the next moment... absolutely quiet. Ketenangan sebelum badai...
“What?” Kau akhirnya berbicara dan aku, berusaha yang terbaik yang bisa kulakukan, melihatmu. Ekspresi diwajahmu murni kaget dan matamu membesar dan kupikir itu akan keluar dari tempatnya.
Dan tiba-tiba, aku merasa marah. “I love you! I love you! I love you!” Aku berteriak keras kepadamu sebelum menjauh darimu. “Apa kau bahagia sekarang?” Aku benar-benar merasa malu, dan ingin membuatku lari dari tempat ini. Ini sangat aneh... Aku mulai menjauh , kaget bahwa aku tidak menangis lagi. Sialan! Kenapa aku harus mengatakannya padamu? Kenapa kau membuatku untuk mengatakannya padamu? Kenapa tadi aku tidak menolakmu? Kenapa?... sialan... kenapa?
Dan tiba-tiba aku merasa tanganmu memegang tanganku dan kau memutar tubuhku. Dan yang lebih tiba-tiba ( dan membuatku kaget sekali ), kepalaku berada di dadamu dalam pelukkanmu dan ini membuatku kaget.
“Haido...” Kau tetap menggunakan nada suara yang gentle seperti yang sudah kau lakukan sebelumnya. Apakah...ini berarti kau tidak marah padaku? Tidak jijik? Kau tidak marah padaku? Kau tidak berpikir aku salah? Bahwa aku orang aneh? “Ada yang harus kukatakan padamu.” Kau melanjutkan kata-katamu, dan aku tetap merasa takut.Apa ini? Apa kau akan mengatakan bahwa kau tidak menginginkan hubungan yang lebih daripada persahabatan denganku?
“I love you.”
“Kumohon! Maafkan aku! Aku tidak bermaksud apa-apa! Jangan tinggalkan a-“ Aku berhenti tiba-tiba dan mengejapkan mataku pelan-pelan sebelum melihat padamu lagi. “Apa yang barusan kau katakan?”
“I love you, silly.” Kau menjawab, sebuah senyuman menghias di wajahmu bersamaan ketika kau memelukku untuk lebih dekat dengan tubuhmu dan kehangatannya.”Aku ingin mengatakannya sejak dulu... tapi aku takut kau akan membenciku.”
“Ga-Gacchan...” Aku berkata. Tidak pernah bermimpi bahwa kau mencintaiku juga... Ini benar-benar diluar dugaanku!
“Haido... Boleh aku menciummu?” Kau bertanya padaku, wajahmu mulai mendekat, tidak menunggu jawaban dariku, tapi aku dengan cepat menganggukkan kepalaku, menandakan aku setuju. Aku mencoba untuk mengatakannya, tapi yang keluar hanya bisikan. Kau tertawa kecil melihat reaksiku. Tapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin merasakan bibirmu dibibirku.
Bibirmu menyentuh bibirku, dan lidahmu mulai menjelajahi mulutku dan- pikiranku berhenti di sini, dan aku berpikir...
that’s actually quite a good thing too, as your lips descend upon mine to gingerly claim them.
And at that moment........
Tidak ada apapun selain kau dan aku........
~Owari~








0 Comments:
Post a Comment
<< Home